Dulu aku memiliki seorang sahabat.Ia tak tampan, tak juga seorang yang proporsional.Ia tidak memiliki pesona bagi gadis kebanyakan.Namun, Ia memiliki gaya angkuh yang menjadi ke khas-annya.Ia tak tinggi hati, namun tak pernah merendah diri.Jalannya kokoh dengan dagu miring meruncing tegak ke atas.Rambutnya tak pernah berganti gaya, selalu kaku meski tanpa jel pengeras rambut.Sepatunya itu-itu saja, namun harganya ia nyatakan 2kali lebih mahal dari sepatuku.Ia suka mengenakan jaket dari bahan Lea yang kian menguatkannya layaknya anak geng motor walau sebenarnya ia anti dengan komplotan itu.Ia tak pernah betah dirumahnya, namun enggan beranjak dari rumahku.Ia suka makan, namun ia tak pernah berani memulai jika tanpa suguhanku.
Sebelum ia memucat diatas jalanan beraspal dengan lengan kiri patah, dan kepala bersimbah darah Ia adalah sahabatku.
Banyak orang berkata jika sahabat ialah sosok yang mengerti segalanya tentang kita, apapun itu.Dulunya, aku berkata ke banyak orang jika aku memiliki begitu banyak sahabat. Bisa dikatakan Ya!, karena disaatku bahagia mereka selalu ada bersamaku. bahkan, disaat sakit mereka juga ada disampingku. Air mataku juga acap terusap oleh jemari mereka. Bukankah itu sosok sahabat yang diinginkan banyak orang??
Kembali ku katakan tentang Dia..Dia bukan seorang keturunan Coperfield atau Corbuzier, namun ia bisa muncul begitu saja di depan pintu rumahku. Dengan motor yamaha merahnya, aku selalu nyaman dibalik bahu bidang berlapiskan tumpukan daging kenyal yang melekat ditubuhnya. Ia tak lah seorang pembalap, tapi laju kendaraannya tak pernah pelan.Kami suka berhenti di depan sebuah mini market, mengacak-acak rentetan es krim di dalam freezer dan menemukan Cornetto Cokelat kesukaannya. Ia selalu lebih unggul menuju meja kasir ketimbang aku, yang secara tidak langsung menyelamatkan rupiahku dan mengorbankan soekarno-hatta nya menjadi lembaran cut nyak dien dan beberapa pahlawan lainnya. Kami suka menikmati dinginnya es krim di depan sebuah SPBU sambil sesekali mengunyah biskuit yang turut kami beli. Beberapa pasang mata anak-anak geng motor suka melirik ke arah kami, tapi kepedulian kami sedikit tidak kami indahkan. Kami lebih takut jika es krim kami melumer terkena angin dan debu hempasan motor yang tengah beradu kecepatan.
Ia selalu bersama denganku. Begitu dekat dengan orang tua dan saudaraku. Ia seperti jiwaku.Ia suka menggodai gadis-gadis cantik, meminta nomor ponselnya. hingga akhirnya berhasil mendapatkan alamat rumahnya.Ia pernah benar-benar sedikit melupakanku dan menikmati beberapa ribu detik bersama dengan teman kencannya. Ia mengabaikanku, yang tak berniat membuang status lajang tak laku - ku. Karena aku selalu merasa nyaman dengan statusku ini. Tak tau kenapa. aku tak mau membagi cintaku hanya pada satu orang. aku belum siap dan aku bukanlah playboy. Ia tau kalau aku tak terlalu suka dengan kedekatannya bersama teman kencannya itu.
Dulu kami pernah berjanji, Ia tak akan memiliki seorang pacar sebelum aku mendapatkan teman kencanku yang ke -2. Dan Janji itu tetap ia tepati sampai akhirnya ia Pergi! Pergi bukan berarti mencari gadis-gadis cantik yang menurutnya menarik! namun, Ia Pergi! Pergi meninggalkanku. Mati!
Ia membawaku pada sebuah dunia yang berwarna. Menyukai es krim, bertengger di pinggir jalanan, mengukur panjanganya jalan dengan kuda bermesinnya dan banyak hal lain.Tapi, Ia memberiku sebuah ingatan! yang hanya akan mati jika akupun mati.
Ini sepenggal tentangmu Sahabatku, RULLY (21th)
No comments:
Post a Comment