Pagi. Di kala ayam berkokok. Awan masih menutupi mentari. Dan embun masih bergelayut manja di atas dedaunan. Aku terbangun dan kembali mengingat kenangan masa lalu. Bukan tentang cinta, bukan pula tentang cita-cita. Aku mengingat abangku. Si Birong itulah gelarnya. Gelar yang didasarkan pada warna kulitnya. Birong itu bahasa batak. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia berarti hitam.Dia tidak pernah marah. Tidak pula dia murka atas gelar itu. Birong justru senang dipanggil dengan sebutan itu. Padahal nama sebenarnya cukup indah dan bagus diberikan orang tua kami. Riswandi Emmanuel Maringga. Itulah nama lengkapnya. Andi, biasanya itulah nama yang selalu dipanggil orang tua kami.Ya, Birong abangku.
Pagi mengingatkanku akan dirinya pada masa-masa menerima rapor seperti yang terjadi pada minggu-minggu ini di setiap sekolah. Biasanya pembagian rapor hari Sabtu. Di kala itu kami pun berlomba bangun pagi lebih cepat untuk mengenakan seragam pramuka. Hanya ada satu seragam kala itu, sehingga siapa yang tercepat bangun dialah yang berhak memakainya. Peristiwa itu terjadi saat abangku duduk dibangku kelas 6 SD, sementara aku di kelas 4 SD. Biasanya dialah yang selalu beruntung memakai baju pramuka, karena selalu bangun pagi lebih dulu dariku.Tetapi kami selalu berangkat bersama,
Saat teman sekelas yang juga tetangga kami memanggil di depan pintu, kami acapkali bertanya pada Mamak, "Mak … apa bingkisan kami sama Guru? Orang si Dewi sama si Tini bawa kado untuk guru lho," kata-kata itulah yang meluncur dari mulut kami.Mamak biasanya hanya tersenyum. Senyuman mamak menyadarkan kami bahwa kami tidaklah terlahir sebagai keluarga yang memiliki penghasilan berlebih, sehingga cukup sulit bagi mamak untuk memastikan apa yang harus kita bawa. Namun demikian, mamak selalu berusaha membuat kami merasa percaya diri. Beliau selalu mengusahakan agar diri kami juga dapat memberikan kado untuk guru, meski tak seberapa. Aku ingat kala itu dia hanya membawa biskuit. Aku sendiri membawa Amplop putih berpagarkan merah putih arsiran. Di dalam amplop itu berisi beberapa lembar uang ribuan. Kami pun berangkat dengan tersenyum gembira.
Bang, apakah masa-masa itu kau ingat di duniamu yang baru? Waktu itu musim hujan. Air selalu menggenang di antara lubang-lubang jalan. Pada saat kita berjalan di pinggir jalan genangan air sedikit memberiak oleh angkutan umum yang melesat cepat di antara genangan air. Baju kita pun berlumpur dan basah. Kita hanya bisa mengumpat sedikit kutukan, sementara teman kita yang lainnya menertawai seragam sekolah kita yang bermotif belang-belang. Hanya kita tak pernah menghiraukan ledekan teman-teman. Kita tetap berjalan dengan semangat menuju sekolah. Guru-guru sempat terheran melihat kita dengan pakaian seperti itu. Tetapi sesudah mendengar penjelasan dari teman-teman, mereka akhirnya tersenyum dan mempersilakan diri kita masuk pada kelas masing-masing.Kita selalu duduk di depan kelas. Dan kali itu namamulah yang terakhir dipanggil oleh guru untuk menerima rapor. Sedangkan aku terakhir kedua dipanggil oleh guru. Kita pun tertawa dengan penuh kebahagiaan. Kau berhasil menjadi bintang kelas. Sementara aku hanya rangking dua. Lagi-lagi, kau unggul dariku.Kita pun pulang. Dengan bangga rapor kita tunjukkan pada mamak. Sebab hanya dialah yang selalu di rumah menanti kita. Ayah barulah pada malam hari melihat hasil belajar kita, karena dia harus bekerja. Dan saat-saat dinantikan itu tiba. Kita makan bersama di atas tikar yang telah digelar di belakang rumah. Mamak selalu memimpin doa. Dia menyampaikan segala ucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, atas prestasi kita. Sesudah itu, ia pun memberikan sebuah telur bulat yang telah direbus sebagai hadiah kepada kita. Lagi-lagi kita tertawa dengan penuh kebahagiaan. Telur pun kita santap dengan penuh kenikmatan.
Abang … Abangku … Air mataku tak punya malu ketika aku menuliskan cerita singkatku. Tak ada yang melihat, dan tak ada yang perlu harus peduli denganku. Aku dan perasaanku. Otakku yang terisi ribuan kecil kisah memaksaku untuk menuliskan semua ini, untuk mengurangi segala gejolak di dadaku.Aku rindu masa kecil kita dulu. Apa kau merindukannya sepertiku????Meski kau telah menyeberang menuju duniamu yang baru. Tetapi aku tetap merasa hadirmu. Kau memeluk aku dan mencubitku.Kata-katamu pun tergiang di telingaku, “ADEK GA SAYANG SAMA ABANG?” Aku pun berteriak dalam bilik hati kecilku mengatakan “ADEK SELALU SAYANG ABANG! SELAMANYA! SAMPAI KITA BISA BERSAMA!”
Sepenggal Kisah Tentang "Sahabat"
Sunday, March 2, 2014
Sepenggal Kisah Tentang "Sahabat"
Dulu aku memiliki seorang sahabat.Ia tak tampan, tak juga seorang yang proporsional.Ia tidak memiliki pesona bagi gadis kebanyakan.Namun, Ia memiliki gaya angkuh yang menjadi ke khas-annya.Ia tak tinggi hati, namun tak pernah merendah diri.Jalannya kokoh dengan dagu miring meruncing tegak ke atas.Rambutnya tak pernah berganti gaya, selalu kaku meski tanpa jel pengeras rambut.Sepatunya itu-itu saja, namun harganya ia nyatakan 2kali lebih mahal dari sepatuku.Ia suka mengenakan jaket dari bahan Lea yang kian menguatkannya layaknya anak geng motor walau sebenarnya ia anti dengan komplotan itu.Ia tak pernah betah dirumahnya, namun enggan beranjak dari rumahku.Ia suka makan, namun ia tak pernah berani memulai jika tanpa suguhanku.
Sebelum ia memucat diatas jalanan beraspal dengan lengan kiri patah, dan kepala bersimbah darah Ia adalah sahabatku.
Banyak orang berkata jika sahabat ialah sosok yang mengerti segalanya tentang kita, apapun itu.Dulunya, aku berkata ke banyak orang jika aku memiliki begitu banyak sahabat. Bisa dikatakan Ya!, karena disaatku bahagia mereka selalu ada bersamaku. bahkan, disaat sakit mereka juga ada disampingku. Air mataku juga acap terusap oleh jemari mereka. Bukankah itu sosok sahabat yang diinginkan banyak orang??
Kembali ku katakan tentang Dia..Dia bukan seorang keturunan Coperfield atau Corbuzier, namun ia bisa muncul begitu saja di depan pintu rumahku. Dengan motor yamaha merahnya, aku selalu nyaman dibalik bahu bidang berlapiskan tumpukan daging kenyal yang melekat ditubuhnya. Ia tak lah seorang pembalap, tapi laju kendaraannya tak pernah pelan.Kami suka berhenti di depan sebuah mini market, mengacak-acak rentetan es krim di dalam freezer dan menemukan Cornetto Cokelat kesukaannya. Ia selalu lebih unggul menuju meja kasir ketimbang aku, yang secara tidak langsung menyelamatkan rupiahku dan mengorbankan soekarno-hatta nya menjadi lembaran cut nyak dien dan beberapa pahlawan lainnya. Kami suka menikmati dinginnya es krim di depan sebuah SPBU sambil sesekali mengunyah biskuit yang turut kami beli. Beberapa pasang mata anak-anak geng motor suka melirik ke arah kami, tapi kepedulian kami sedikit tidak kami indahkan. Kami lebih takut jika es krim kami melumer terkena angin dan debu hempasan motor yang tengah beradu kecepatan.
Ia selalu bersama denganku. Begitu dekat dengan orang tua dan saudaraku. Ia seperti jiwaku.Ia suka menggodai gadis-gadis cantik, meminta nomor ponselnya. hingga akhirnya berhasil mendapatkan alamat rumahnya.Ia pernah benar-benar sedikit melupakanku dan menikmati beberapa ribu detik bersama dengan teman kencannya. Ia mengabaikanku, yang tak berniat membuang status lajang tak laku - ku. Karena aku selalu merasa nyaman dengan statusku ini. Tak tau kenapa. aku tak mau membagi cintaku hanya pada satu orang. aku belum siap dan aku bukanlah playboy. Ia tau kalau aku tak terlalu suka dengan kedekatannya bersama teman kencannya itu.
Dulu kami pernah berjanji, Ia tak akan memiliki seorang pacar sebelum aku mendapatkan teman kencanku yang ke -2. Dan Janji itu tetap ia tepati sampai akhirnya ia Pergi! Pergi bukan berarti mencari gadis-gadis cantik yang menurutnya menarik! namun, Ia Pergi! Pergi meninggalkanku. Mati!
Ia membawaku pada sebuah dunia yang berwarna. Menyukai es krim, bertengger di pinggir jalanan, mengukur panjanganya jalan dengan kuda bermesinnya dan banyak hal lain.Tapi, Ia memberiku sebuah ingatan! yang hanya akan mati jika akupun mati.
Ini sepenggal tentangmu Sahabatku, RULLY (21th)
Subscribe to:
Posts (Atom)